SEKILAS TENTANG TRADISI MAKAN BESAPRAH
Pernah dengar ‘Saprahan’? Bagi orang melayu yang berdomisili di Kalimantan Barat
(wa bil khusus Kabupaten Sambas, Singkawang Utara dan sekitarnya), pasti sudah
tidak asing lagi dengan ‘Saprahan’.
Walaupun tidak ada referensi yang dapat
menyebutkan secara akurat sejak kapan
tradisi Saprah dimulai, namun masyarakat
sering mengaitkan tradisi ini dengan ajaran Islam sebagai agama yang dianut
masyarakat Melayu Sambas. Saprahan sendiri dalam adat
istiadat Melayu berasal dari kata saprah
yang secara harfiah berarti berhampar, . Jadi, Saprahan/besaprah bisa didefinisikan sebagai :
“Budaya makan bersama dengan cara duduk lesehan atau bersila
di atas lantai secara berkelompok yang terdiri dari enam orang tiap
kelompok.”
Seperti ini nih...:
Ini juga....
Yang
unik dari tradisi besaprah ini adalah
lauk-pauk yang dihidangkan umumnya terdiri dari 5-6 jenis, tergantung niat dan
kemampuan dari tuan rumah. Yakni, ayam 2 macam, sapi 1 macam, sayur, telur,
sambal, lalap (pecel atau rujak).
Seperti
ini nih...
Atau ini.....
Dalam
makan bersaprah sangat tidak dianjurkan memakai sendok, garpu ataupun alat
makan lainnya, jadi harus dengan tangan
. Makanya selain makanan, biasanya juga dalam tradisi saprahan disediakan juga
air cuci tangan. Selain makanan, ciri khas
yang disajikan dalam tradisi Saptahan adalah air minum ‘sapang’
yaitu air berwarna teh dengan aroma khas yang terbuat dari rendaman kayu Sapang
Makan saprahan biasanya berlangsung
pada saat acara perkawinan, tepung
tawar, sunatan, pindah rumah, dan lain-lainnya. Dalam acara pernikahan
misalnya. Tradisi besaprah ini bisa
melibatkan banyak orang. Tidak hanya yang keluarga yang punya hajatan,
melainkan warga satu kampung. Selain Saprahan, dalam acara pernikahan biasanya
ada tradisi yang disebut “Adat
penyambutan tamu". Adat menyambut tamu biasanya dilakukan oleh
keluarga yang punya hajatan –biasanya dibantu kerabat. Tugas utama
mereka adalah memastikan agar seluruh tamu yang datang semuanya mendapat
penghormatan
dan penghargaan yang selayaknya. Maka bisa dipastikan peran penyambut
tamu
menjadi penting dalam sebuah jamuan makan ber-Saprah. Penyambut tamu
dituntut
untuk mengenal seluruh tamu yang diundang. Penyambut tamu bertugas
menyambut
tamu yang datang sekaligus mengantarkan tamu ke tempat duduknya. Tempat
duduk tamu juga tidak disusun asal-asalan. Tempat tamu biasanya
ditentukan dari
status sosialnya di masyarakat, yang disusun mulai dari tempat paling
ujung di
dalam ‘tarub’.
Tarub adalah sejenis tenda berukuran besar tanpa dinding di tiap sisinya. Mereka yang di Tarub biasanya adalah sesepuh
kampung, tokoh masyarakat dan orang penting lainnya.
.

Masyarakat Sambas meyakini bahwa besaprah tidak
hanya sebatas tradisi belaka. Banyak nilai filosofis yang terkandung di
dalamnya. Diantaranya adalah, dengan besaprah kita diajarkan tentang
kesederhanaan, yaitu setiap orang dengan berbagai latar belakang, kaya atau
miskin, muda atau tua, mempunyai jabatan atau tidak, duduk secara bersama-sama dilantai menikmati makanan yang
sama dengan lauk dan
sayur yang apa adanya.. Selain itu, besaprah juga mengajarkan kita
arti kebersamaan dan kekeluargaan yang merupakan modal penting untuk menjaga
kita tetap saling mengenal satu sama lain. Dengan semakin baik kita mengenal
satu sama lain, maka hubungan emosional kita akan baik dan akan berpengaruh
pula kepada rasa persatuan dan kesatuan kita.