Minggu, 18 Januari 2015

SEKILAS TENTANG TRADISI MAKAN BESAPRAH 

Pernah dengar ‘Saprahan’? Bagi orang melayu yang berdomisili di Kalimantan Barat (wa bil khusus Kabupaten Sambas, Singkawang Utara dan sekitarnya), pasti sudah tidak asing lagi dengan ‘Saprahan’. Walaupun tidak  ada referensi yang dapat menyebutkan secara akurat  sejak kapan tradisi Saprah dimulai,  namun masyarakat sering mengaitkan tradisi ini dengan ajaran Islam sebagai agama yang dianut masyarakat Melayu Sambas. Saprahan sendiri dalam adat istiadat Melayu berasal dari kata saprah yang secara harfiah berarti berhampar, . Jadi, Saprahan/besaprah bisa didefinisikan sebagai :


Budaya makan bersama dengan cara duduk lesehan atau bersila di atas lantai secara berkelompok yang terdiri dari enam orang tiap kelompok.” 


Seperti ini nih...:
 
















Ini juga....
 



Yang unik dari tradisi besaprah ini adalah lauk-pauk yang dihidangkan umumnya terdiri dari 5-6 jenis, tergantung niat dan kemampuan dari tuan rumah. Yakni, ayam 2 macam, sapi 1 macam, sayur, telur, sambal, lalap (pecel atau rujak).
 
Seperti ini nih...
 













Atau ini.....
 


 Dalam makan bersaprah sangat tidak dianjurkan memakai sendok, garpu ataupun alat makan lainnya,  jadi harus dengan tangan . Makanya selain makanan, biasanya juga dalam tradisi saprahan disediakan juga air cuci tangan.  Selain makanan, ciri khas yang disajikan dalam tradisi Saptahan adalah air minum sapang yaitu air berwarna teh dengan aroma khas yang terbuat dari rendaman kayu Sapang 

Makan saprahan biasanya berlangsung pada saat acara perkawinan,  tepung tawar, sunatan, pindah rumah, dan lain-lainnya. Dalam acara pernikahan misalnya.  Tradisi besaprah ini bisa melibatkan banyak orang. Tidak hanya yang keluarga yang punya hajatan, melainkan warga satu kampung. Selain Saprahan, dalam acara pernikahan biasanya ada tradisi yang disebut “Adat penyambutan tamu". Adat menyambut tamu biasanya dilakukan oleh keluarga yang punya hajatan –biasanya dibantu kerabat. Tugas utama mereka adalah memastikan agar seluruh tamu yang datang semuanya mendapat penghormatan dan penghargaan yang selayaknya. Maka bisa dipastikan peran penyambut tamu menjadi penting dalam sebuah jamuan makan ber-Saprah. Penyambut tamu dituntut untuk mengenal seluruh tamu yang diundang. Penyambut tamu bertugas menyambut tamu yang datang sekaligus mengantarkan tamu ke tempat duduknya.  Tempat duduk tamu juga tidak disusun asal-asalan. Tempat tamu biasanya ditentukan dari status sosialnya di masyarakat, yang disusun mulai dari tempat paling ujung di dalamtarub’. 
Tarub adalah sejenis tenda berukuran besar tanpa dinding di tiap sisinya. Mereka yang di Tarub biasanya adalah sesepuh kampung, tokoh masyarakat dan orang penting lainnya.
 
.






Masyarakat Sambas meyakini bahwa besaprah tidak hanya sebatas tradisi belaka. Banyak nilai filosofis yang terkandung di dalamnya. Diantaranya adalah, dengan besaprah kita diajarkan tentang kesederhanaan, yaitu setiap orang dengan berbagai latar belakang, kaya atau miskin, muda atau tua, mempunyai jabatan atau tidak, duduk secara bersama-sama dilantai menikmati makanan yang sama dengan lauk dan sayur yang apa adanya.. Selain itu, besaprah juga mengajarkan kita arti kebersamaan dan kekeluargaan yang merupakan modal penting untuk menjaga kita tetap saling mengenal satu sama lain. Dengan semakin baik kita mengenal satu sama lain, maka hubungan emosional kita akan baik dan akan berpengaruh pula kepada rasa persatuan dan kesatuan kita.